Thursday, July 15, 2021

 

SIKAP DAN KEPUASAN KERJA

 

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Perilaku Organisasional

 

Dosen Pengampu :

SYAMSUL MU`ARIF S.E.,M.M.

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Eva Handayani Putri (191011200952)

Febrian Fikri Lesmana (191011200953)

Hayun Maristu (191011200970)

Ike Nurdianti (191011200957)

 

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PAMULANG

2020/2021










KATA PENGANTAR

 

Syukur alhamdulillah senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Perilaku Organisasional, dengan judul “Sikap dan Kepuasan Kerja”.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan doa, saran dan kritik sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki, oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

 

 

 

Pamulang, 14 Juli 2021

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

                                                  

 

DAFTAR ISI

 

 

Kata Pengantar .........................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah 

C. Tujuan 

D. Manfaat

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................

A. Pengertian Sikap dan Kepuasan Kerja

B. Komponen-komponen Pembentuk Sikap

C. Hubungan antara Sikap dan Perilaku

D. Cara Menukur Kepuasan Kerja 

E. Ketidakpastian Kerja, Peyebab, dan Alasannya

F. Contoh Kasus Kepuasan Kerja

BAB III PENUTUP ........................................................................................................................

A. Kesimpulan

B. Saran 

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………..........    

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

     A.   Latar Belakang

Sikap (attitude) adalah pernyataan-pernyataan evaluative - baik menyenangkan atau tidak menyenangkan - mengenal objek, orang atau peristiwa. Mereka merefleksikan bagaimana perasaan kita tentang sesuatu. Untuk secara penuh memahami sikap, kita harus memperhatikan karakteristik atau komponen dasarnya.

Dalam organisasi, sikap adalah komponen penting untuk perilaku. Misalnya, jika pekerja percaya bahwa atasan, auditor, bos, dan mandor semua berkonspirasi untuk membuat pekerja bekerja lebih keras dengan upah yang sama atau lebih sedikit, maka masuk akal untuk memahami bagaimana sikap ini terbentuk, bagaimana mereka berhubungan dengan perilaku kerja nyata, dan bagaimana mereka mungkin dapat diubah.

Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi memiliki perasaan-perasaan positif tentang pekerjaan tersebut, sementara seseorang yang tidak puas memiliki perasaan-perasaan yang negatif tentang pekerjaan tersebut. Keterlibatan pekerjaan, mengukur tingkat sampai mana individu secara psikologis memihak pekerjaan mereka dan menganggap penting tingkat kinerja yang dicapai sebagai bentuk penghargaan diri. Karyawan yang mempunyai tingkat keterlibatan pekerjaan yang tinggi sangat memihak dan benar-benar peduli dengan bidang pekerjaan yang mereka lakukan. Tingkat keterlibatan pekerjaan dan pemberian wewenang yang tinggi benar-benar berhubungan dengan kewargaan organisasional dan kinerja pekerjaan. Keterlibatan pekerjaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seorang individu, sementara komitmen organisosial yang tingi berarti memihak organisasiyang merekrut individu tersebut.

  B.     Rumusan Masalah

1.    Apa pengertian dari sikap dan kepuasan kerja?

2.    Apa saja komponen-komponen pembentuk sikap?

3.      Bagaimana hubungan antara sikap dan perilaku?

4.      Bagaimana cara untuk mengukur kepuasan kerja?

5.     Apa saja hal dalam ketidakpastian kerja, penyebabnya, dan alasannya?

6.     Sebutkan kasus untuk kepuasan kerja! 


C.    Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk :

1.      Mengetahui apa yang dimaksud dari sikap dan kepuasan kerja

2.      Mengetahui apa saja komponen-komponen pembentuk sikap

3.      Mengetahui hubungan antara sikap dan perilaku

4.      Mengetahui cara untuk mengukur kepuasan kerja

5.      Mengetahui ketidakpastian kerja, peyebabnya dan alasannya

6.      Mengetahui kasus tentang kepuasan kerja.


D.    Manfaat

Penulisan makalah ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang signifikan bagi pembacanya dalam memahami dan mengimplementa-sikan tentang sikap dan kepuasan kerja





BAB II

PEMBAHASAN

 

    A.    Pengertian Sikap dan Kepuasan Kerja

Sikap di definisikan sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Sedangkan menurut Soetarno (1994), sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda,orang, peristiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.

Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian tentang sikap, tetapi berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.

Kepuasan kerja merupakan sebagai suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari sebuah evaluasi karakteristiknya. Sebuah pekerjaan menuntut interaksi dengan rekan kerja dan atasan-atasan, mengikuti peraturan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan organisasional, memenuhi standar-standar kinerja, menerima kondisi-kondisi kerja yang acapkali kurang ideal dan sebagainya. Jadi penilaian seorang karyawan tentang seberapa ia merasa puas atau tidak puas dengan pekerjaan merupakan penyajian yang rumit dari sejumlah elemen pekerjaan yang berlainan.

Ada dua pendekatan yang digunakan dalam mengukur konsep tentang kepuasan kerja:

1.  Penilaian tunggal secara umum, dengan cara meminta individu untuk merespon satu pertanyaan, seperti “Dengan mempertimbangkan semua hal, seberapa puaskah diri anda dengan pekerjaan anda?”Kemudian para responden menjawab dengan cara melingkari sebuah angka antara 1 dan 5 yang cocok dengan jawaban dari “sangat puas” sampai “sangat tidak puas”. Metode ini tidak memakan waktu.

2.    Penyajian akhir aspek pekerjaan, ini lebih rumit, dengan mengidentifikasi elemen-elemen penting dalam suatu pekerjaan dan menanyakan perasaan karyawan tentang setiap elemen. Faktor-faktor yang akan dimasukkan adalah sifat pekerjaan, pengawasan, bayaran saat ini, peluang promosi, dan hubungan dengan rekan-rekan kerja. Semua faktor dinilai berdasarkan skala standar kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan nilai kepuasan kerja. Metode ini berfokus pada keberadaan masing-masing masalah sehingga lebih mudah untuk menangani karyawanyang tidak bahagia serta menyelesaikan masalah dengan lebih cepat dan akurat.

 

    B.     Komponen – Komponen Pembentuk Sikap

Dilihat dari structurnya, sikap terdiri atas tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dankomponen konatif. Komponen kognitif berupa keyakinan seseorang (behavior belief dan group belief), komponen afektif menyangkut aspek emosional, dan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan bertindak sesuai dengan sikap-nya. Komponen afektif atau aspek emosional biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap, yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin mengubah sikap (Azwar, 1988:17-18).

  1. Komponen Kognitif Komponen Kognitif berisi persepsi, kepercayaan, dan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Persepsi dan kepercayaan seseorang mengenai objek sikap berwujud pandangan (opini) dan sering kali merupakan stereotipe atau sesuatu yang telah terpolakan dalam pikirannya. Komponen kognitif dari sikap ini tidak selalu akurat. Kadang-kadang kepercayaan justru timbul tanpa adanya informasi yang tepat mengenai suatu objek. Kebutuhan emosional bahkan sering meru pakan determinan utama bagi terbentuknya kepercayaan.
  2. Komponen Afektif , Komponen afektif melibatkan perasaanatau emosi. Reaksi emosional kita terhadap suatu objek akan membentuk sikap positif atau negatif terhadap objek tersebut. Reaksi emosional ini banyak ditentukan oleh kepercayaan terhadap suatu objek, yakni kepercayaan suatu objek baik atau tidak baik, bermanfaat atau tidak bermanfaat.
  3. Komponen Konatif Komponen konatif atau kecenderungan bertindak (berperilaku) dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap. Perilaku seseorang dalam situasi tertentu dan dalam situasi menghadapi stimulus tertentu, banyak ditentukan oleh kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut. Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual (Azwar, 1988:21).

Sebagai halnya karakteristik afektif yang lain, sikap memiliki target, arah, dan intensitas. Target ialah objek,. kegiatan, atau gagasan yang menjadi sasaran suatu sikap. Yang dimaksud dengan arah sikap ialah orientasi sikap yang dapat positif atau negatif. Sedangkan intensitas adalah derajad atau kekuatan sikap. Sikap terhadap suatu objek dapat sangat kuat, misalnya sangat senang pada karya karya sastra atau sangat benci pada perjudian.

 

C.    Hubungan Antara Sikap Dan Individu

Hubungan antara sikap dan perilaku telah menyebabkan minat sikap terhadap lingkungan sebagai prediktor tindakan yang berbasis lingkungan dan keputusan dalam berpartisipasi. Berdasarakan Teori TPB, gagasan individu memiliki serangkaian nilai pribadi yang menjadi kriteria untuk menilai kesesuan perilaku tertentu. Perilaku potensial dengan hasil yang lebih baik bagi individu dikaitkan dengan niat perilaku yang lebih kuat, yang akan meningkatkan kemungkinan perilaku tertentu ini benar-benar terjadi atau tidak. Hubungan antara sikap dan perilaku dapat bervariasi, karena sikap dan perilaku merupakan faktor yang bergantung tetapi dipengaruhi oleh faktor lainnya (suasana hati, emosi, kepribadian, tekanan sosial, potensi, resiko ataupun waktu). Sikap akan mempengaruhi perilaku, jika :

    1. faktor-faktor yang mempengaruhi pernyataan sikap dan perilaku di kurangi seminimal mungkin,
    2. Ketika pengukuran sikap menunjuk pada suatu perilaku yang lebih spesifik,
    3. Terdapat kesadaran terhadap sikap yang dimiliki, ketika akan menunjukkan suatu perilaku. (Myers, 1983 dalam (Rahman, Abdul, 2014)

Sikap terhadap perilaku biasanya mengacu pada teori perilaku yang direncanakan (TPB). Berdasarkan teori tersebut, yang menjadi penentu terpenting dari perilaku seseorang adalah intensi untuk berperilaku. Dimana, intensi perilaku tersebut dipengaruhi oleh sikap individu yang baik terhadap perilaku tersebut, persepsi individu terhadap norma subjektif, dan sejauh mana individu merasakan tingkah laku yang berada dibawah kendali pribadinya (Sawitri et al. 2015).  Sikap terhadap perilaku didefinisikan sebagai peneliaan positif atau negatif indiviu terhadap suatu perilaku. Sikap terhadap perilaku ditentukan oleh kombinasi belief individu mengenai konsekuensi positif dan atau negatif dari melakukan suatu perilaku dengan nilai subjektif individu terhadap konsekuensi berperilaku tersebut (Ajzen, 2005). Sikap positif seseorang akan menyebabkan perilaku yang positif terhadap suatu objek (Suprapti, 2010). Semakin baik sikap konsumen terhadap produk hijau maka mereka akan semakin termotivasi membeli produk hijau (Banyte, Jurate ; Brazioniene, L; Gadeikiene, 2010). Berdasarkan (Suki, 2013) menyatakan bahwa seseorang yang memiliki sikap ramah lingkungan  akan memiliki sikap positif terhadap produk-produk ekologis dan tentunya akan ikut serta dalam kegiatan yang memberikan perlindungan pada lingkungan.  Dalam penelitiannya (Kumar, 2014) menyatakan  bahwa sikap memiliki hubungan yang signifikan dengan niat untuk membeli produk yang ramah  lingkungan.

D.    Cara Mengukur Kepuasan Kerja

Untuk mengetahui kepuasan kerja karyawan, sebuah perusahaan bisa melakukan banyak cara untuk mengukur kepuasan kerja, diantaranya rating scale, Interviews, dan critical incidentas.

1.      Pengukuran Kepuasan Kerja Menggunakan Rating Scale

Rating scale merupakan salah satu cara mengukur kepuasan kerja yang sering digunakan oleh sebagian besar perusahaan. Cara pengukuruan kepuasan kerja jenis ini bisa dilakukan dengan dua cara pengukuran yaitu minesota satisfaction questionare dan questionare, dan job descriptive index Minesota satisfaction questionare merupakan instrumen pengukur kepuasan kerja yang memuat secara detail hal-hal apa saja yang bisa dimasukkan ke dalam kategori unsur kepuasan kerja dan unsur ketidakpuasan kerja. Rating scale jenis ini dapat mengukur berbagai macam elemen pekerjaan yang dinilai mampu menggambarkan tingkat kepuasan karyawan, dari mulai elemen pekerjaan yang memiliki nilai sangat memuaskan hingga elemen pekerjaan yang memiliki nilai sangat tidak memuaskan. Setiap karyawan akan diminta memeberikan jawaban yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang sedang ia lakukan saat ini. Sedangkan cara pengukuran kepuasan kerja karyawan dengan menggunakan job descriptive index merupakan cara pengukuran kepuasan kerja yang akan memberikan gambaran mengenai sikap karyawan terhadap elemen-elemen pekerjaan yang ia jalani. Variable yang menjadi tolak ukurnya adalah pekerjaan itu sendiri, upah atau gaji yang didapatkan, peluang untuk mendapatkan promosi, supervisi, dan rekan kerja.

2.      Pengukuran Kepuasan Kerja Menggunakan Interviews

Interviews merupakan cara mengukur kepuasan kerja karyawan dengan proses wawancara kepada karyawan yang dilakukan secara personal. Metode ini dinilai ampuh dalam mengetahui secara mendalam tentang sikap karyawan terhadap berbagai macam elemen yang terdapat di dalam pekerjaannya

3.      Pengukuran Kepuasan Kerja Menggunakan Critical Incidents

Critical incidents merupakan istrumen pengukur kepuasan kerja karyawan dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada para karyawan mengenai berbagai macam faktor yang dapat membuat mereka merasa puas atau tidak puas.

 

E.     Ketidakpastian Kerja, Penyebab dan Alasannya

a.    Pengertian Ketidakpastian

Apa itu ketidakpastian? Ketidakpastian atau uncertainty sering diartikan dengan keadaan di mana ada beberapa kemungkinan kejadian dan setiap kejadian akan menyebabkan hasil yang berbeda. Tetapi, tingkat kemungkinan atau probabilitas kejadian itu sendiri tidak diketahui secara kuantitatif. Kata ketidakpastian berarti suatu keraguan, dan dengan demikian pengertian ketidakpastian dalam arti yang luas adalah suatu pengukuran dimana validitas dan ketepatan hasilnya masih diragukan. Dengan demikian, ketidakpastian itu disebabkan karena pengetahuan yang tidak sempurna (imperfect knowledge) dari manusia.

·         Tingkatan Ketidakpastian

Ketidakpastian selalu berhubungan dengan keadaan yang memiliki beberapa kemungkinan kejadian dan dampaknya. Ketidakpastian (uncertainty) sering disebut "unexpected risk" atau risiko tak terduga dari sebuah kejadian. Kondisi ketidakpastian timbul karena beberapa sebab, antara lain:

        1. Jarak waktu dimulai perencanaan atas kerugian sampai kegiatan itu berakhir. Makin panjang jarak waktu makin besar ketidakpastiannya;
        2. Keterbatasan tersedianya informasi yang diperlukan; dan
        3. Keterbatasan pengetahuan atau keterampilan atau teknik mengambil keputusan.

Ketidakpastian itu sendiri banyak tingkatannya. Ada beberapa tingkat ketidakpastian dengan karakteristiknya masing-masing.

a.   Ketidakpastian Sangat Tinggi (Relatif Pasti) Pada tingkatan ketidakpastian yang tidak ada (sudah pasti), hasil bisa diprediksi dengan relatif pasti. Pada tingkatan ini kondisi kepastian sangat tinggi. Hukum alam merupakan contoh ketidakpastian tersebut. Sebagai contoh, kita bisa memprediksi dengan pasti bahwa bumi mengitari matahari selama 360 hari (satu tahun).

b.   Ketidakpastian Objektif Tingkatan selanjutnya adalah ketidakpastian obyektif, dengan contoh adalah dadu, jika kita melempar dadu, ada enam kemungkinan yaitu angka 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 (ada enam kemungkinan hasil). Kita bisa menghitung probabilitas masing-masing angka untuk keluar yaitu 1/6.

c.  Ketidakpastian Subjektif Ketidakpastian subjektif mengandung pengertian psikologis yaitu suasana pemikiran yang diliputi keraguan atau kesadaran akan kurangnya pengetahuan mengenai hasil dari suatu peristiwa. Ketidakpastian demikian disebut ketidakpastian subyektif yaitu penilaian individu (berdasarkan atas perilaku, pengalaman, dan pengetahuannya) terhadap situasi (yang obyektif). Contoh adalah kecelakaan mobil. Identifikasi hasil dan probabilitas (kemungkinan) yang berkaitan dengan kecelakaan mobil lebih sulit dilakukan. Sebagai contoh, jika kita pergi ke luar dengan mobil, berapa besar probabilitas kita mengalami kecelakaan mobil? dan jika terjadi kecelakaan, kerusakan atau kerugian yang bagaimana yang akan kita dapatkan? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut.

d. Ketidakpastian Sangat Tidak Pasti Ketidakpastian sangat tidak pasti adalah ketidakpastian yang jelas-jelas sulit untuk memprediksi atau mengidentifikasi hasil dari suatu peristiwa. Contoh eksplorasi angkasa. Kita tidak tahu apa hasil yang akan diperoleh dari eksplorasi angkasa, apakah akan bertemu dengan makhluk asing (alien), ataukah menemukan planet yang mirip bumi, atau apa yang akan kita temukan. Sangat sulit memprediksi atau mengidentifikasi hasil yang barangkali bisa diperoleh dari eksplorasi angkasa seperti itu. Tentu saja juga akan sangat sulit menentukan probabilitas untuk masing-masing kemungkinan hasil tersebut.

b.   Penyebab

Kepuasan kerja dipengaruhi oleh banyak hal seperti kerja itu sendiri, bayaran, promosi, pengawasan, dan rekan kerja. Namun kepuasan kerja tidak hanya berkaitan dengan kondidi pekerjaan. Kepribadian juga memainkan sebuah peran. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mempunyai kepribadian negative, biasanya kurang puas dengan pekerjaan mereka.

c.    Alasannya

    1.  Mentally challenging work yaitu pekerjaan yg menantang secara mental.
    2. Equitable rewards (imbalan yang sesuai) yaitu adanya keadilan dalam peraturan gaji & promosi.
    3. Supportive working conditions yaitu adanya dukungan kondisi kerja berupa kondisi lingkungan kerja yang nyaman, fasilitas yang lengkap dan tidak membahayakan akan mendukung kepuasan kerja seseorang.
    4. Supportive collagues yaitu adanya dukungan kolega/teman akan membuat seseorang menjadi lebih mantap dalam bekerja.
    5. Personality - job fit yaitu adanya kesesuaian antara kepribadian seseorang dengan pekerjaannya.
    6. Personality - job fit akan membuat seseorang lebih puas karena dalam bekerja sekaligus ia dapat menyalurkan bakat dan minatnya.

F.     Contoh Kasus Kepuasan Kerja

Bekerja sebenarnya bukan sekadar aktivitas mencari penghasilan saja. Lebih dari itu, bagi perempuan, bekerja bisa menjadi sarana untuk mengaktualisasikan diri dan mendapat kepuasan pribadi. Menurut survei yang dilakukan Accenture "Defining Success Your Way" tahun 2013, 53 persen perempuan yang bekerja sudah merasa puas dengan pekerjaan dan pencapaian mereka."Dibandingkan survei tahun lalu (2012), di tahun 2013 ini kepuasan kerja perempuan ternyata meningkat sampai 10 persen. Karenanya, mereka tidak berniat untuk mencari pekerjaan yang lain," ungkap Neneng Goenadi, Executive Director dan Country Lead Accenture Indonesia, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Survei ini juga mengungkapkan bahwa peningkatan kepuasan akan pekerjaan juga disebabkan oleh lingkungan kerja yang lebih menyenangkan dan kondusif untuk peningkatan kinerja mereka. Melalui survei ini, Accenture juga mengungkapkan lingkungan yang ideal dan paling diinginkan para pekerja untuk meningkatkan kepuasan mereka dalam bekerja. Survei ini melaporkan bahwa 59 persen responden mengaku bahwa lingkungan kerja yang baik dan bisa memberikan kepuasan kerja adalah yang tahu bagaimana cara menghargai karyawannya dalam segala hal. "Adanya pengertian dan penghargaan dari bos atau perusahaan bisa meningkatkan semangat pekerja untuk bisa lebih berprestasi, dan meningkatkan kinerja mereka dengan lebih baik".

Perusahaan yang bisa mengerti dan menghargai karyawannya akan memiliki hubungan yang lebih erat dengan karyawan. Dengan demikian, pada akhirnya semua pihak mendapatkan keuntungan saat mereka berhasil merekrut dan mempertahankan karyawan yang berkinerja baik. Selain itu, responden juga mengungkapkan kondisi lingkungan kerja yang bisa membuat mereka merasa puas bekerja adalah: lingkungan yang fleksibel (50 persen), menyenangkan dan penuh tantangan (49 persen), dan menyenangkan (43 persen). Kepuasan kerja juga dipengaruhi oleh kehadiran partner kerja yang jujur (54 persen), bisa diandalkan dan dipercaya (44 persen), dan pandai (33 persen). Survei online dari Accenture ini dilakukan terhadap 4.100 eksekutif dari organisasi menengah sampai besar dari 33 negara di dunia. Masing-masing negara yang berpartisipasi dalam survei ini memberikan 100 responden, yang kemudian dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan jabatan.

 

ANALISIS

Dari kasus di atas dapat di analisa bahwa kepuasan kerja pada perempuan adanya pengaruh lingkungan kerja yang baik dan bisa memberikan kepuasan kerja dengan cara menghargai karyawannya dalam segala hal. Dengan mengungkapkan bahwa peningkatan kepuasan akan pekerjaan juga disebabkan oleh lingkungan kerja yang lebih menyenangkan dan kondusif untuk peningkatan kinerja mereka. Melalui survei ini, Accenture juga mengungkapkan lingkungan yang ideal dan paling diinginkan para pekerja untuk meningkatkan kepuasan mereka dalam bekerja. Adanya pengertian dan penghargaan dari bos atau perusahaan bisa meningkatkan semangat pekerja untuk bisa lebih berprestasi, dan meningkatkan kinerja mereka dengan lebih baik".

Perusahaan yang bisa mengerti dan menghargai karyawannya akan memiliki hubungan yang lebih erat dengan karyawan. Dengan demikian, pada akhirnya semua pihak mendapatkan keuntungan saat mereka berhasil merekrut dan mempertahankan karyawan yang berkinerja baik. Selain itu, responden juga mengungkapkan kondisi lingkungan kerja yang bisa membuat mereka merasa puas bekerja adalah: lingkungan yang fleksibel (50 persen), menyenangkan dan penuh tantangan (49 persen), dan menyenangkan (43 persen). Kepuasan kerja juga dipengaruhi oleh kehadiran partner kerja yang jujur (54 persen), bisa diandalkan dan dipercaya (44 persen), dan pandai (33 persen). Survei online dari Accenture ini dilakukan terhadap 4.100 eksekutif dari organisasi menengah sampai besar dari 33 negara di dunia. Masing-masing negara yang berpartisipasi dalam survei ini memberikan 100 responden, yang kemudian dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan jabatan.




BAB III

PENUTUP

 

A.    KESIMPULAN

Sikap adalah pernyataan-pernyataan evaluatif-baik yang diinginkan atau yang tidak diinginkan-mengenaiobjek, orang, atau peristiwa. Sikap mencerminkan bagaimana seseorang merasakan sesuatu.kepuasan kerja merupakan respons emosional terhadap situasi kerja. Dengan demikian, kepuasan kerjadapat dilihat dan dapat diduga.

Kedua, kepuasan kerja sering ditentukan menurut seberapa baik hasil yangdicapai memenuhi atau melampaui harapan.Pengambilan kuputusan individual, baik ditingkat bawah maupun atas, merupakan suatu bagian yangpenting dari perilaku organisasi. Tetapi bagaimana individu dalam organisasi mengambil keputusan dankualitas dari pilihan mereka sebagiah besar dipengaruhi oleh persepsi mereka.

Pengambilan   keputusan   terjadi   sebagai   suatu   reaksi   terhadap   suatu   masalah.   Terdapat   suatupenyimpangan antara suatu keadaan dewasa ini dan sesuatu keadaan yang diinginkan, yang menuntutpertimbangan arah tindakan alternatif.Pengambil keputusan harus membuat pilihan memaksimalkan nilai yang konsisten dalam batas-batastertentu.

 

            B.     SARAN

Kami menyadari makalah ini terbatas dan banyak kekurangan untuk dijadikan landasan kajian ilmu, maka kepada para pembaca agar melihat referensi lain yang terkait dengan pembahasan makalah ini demi relevansi kajian ilmu yang akurat. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pembaca sekalian, terima kasih.

 



DAFTAR PUSTAKA

 

http://fakkarnuansa.blogspot.com/2017/01/kepuasan-kerja-contoh-kasusnya.html

https://ilmumanajemensdm.com/mengetahui-indikator-dan-cara-mengukur-kepuasan-kerja-karyawan/

https://jurnal.uns.ac.id

http://kuliahherr.blogspot.com/2013/06/contoh-makalah-sikap-dan-kepuasan-kerja.html?m=1

http://lukmancoroners.blogspot.com/2010/05/sikap-dan-kepuasan-kerja.html

http://lukmancoroners.blogspot.com/2010/05/sikap-dan-kepuasan-kerja.html#:~:text=%2D%20Sikap%20kepuasan%20kerja%20(job%20satisfaction,hasil%20dari%20sebuah%20evaluasi%20karakteristiknya.&text=Komitmen%20Afektif%20(affective%20commitment)%2C,dan%20keyakinan%20dalam%20nilai%2Dnilainya

https://media.neliti.com

 

 

 

 

  HAK CIPTA DALAM BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI (Kasus-kasus Pelanggaran Hak Cipta dalam Bidang Teknologi Informasi)   ...